Tampilkan postingan dengan label PSIKOLOGI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PSIKOLOGI. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Februari 2012

Masalah Itu Sementara

Sedikit CoPas ni dari kata-katanya Mario Teguh...cekidot

"Ia hanya menjadi permanen bagi orang yang menganggapnya permanen.

Paku yang memantek seseorang ke papan gosok di mana dia berada sekarang adalah perasaan bahwa masalah-masalahnya saat ini adalah permanen, sedangkan keberhasilan dan kebahagiaannya hanyalah sementara."


Kita tidak mungkin membebaskan diri dari masalah,
karena masalah adalah penghormatan kepada kita.

Tuhan Yang Maha Perkasa menjamin bahwa tidak ada orang yang akan dimasukkan ke dalam masalah yang tidak bisa diatasinya. Sehingga, masalah apa pun yang kita masuki, adalah masalah yang telah ditetapkan berada di bawah kemampuan kita.

Tetapi, masalah sekecil apa pun, akan menjadi penghambat kemajuan dan bahkan menjadi pengerdil masa depan, bagi orang yang memilih untuk tidak menghormati dirinya sendiri, dan tidak mempercayai jaminan Tuhan."

Ambillah seburuk-buruknya keadaan, kemudian taruhlah pribadi dengan hati yang bening, pikiran yang bersih, dan perilaku yang indah – kedalam masalah itu. Dan Anda akan segera melihat keadaan yang tadinya dikeluhkan orang itu – menjadi keadaan yang memuliakan banyak orang.

Ambillah sebaik-baiknya keadaan, kemudian taruhlah pribadi dengan hati yang pengeluh, pikiran yang tidak malu diperhatikan Tuhan, dan perilaku yang penuh ketidak-jujuran. Dan Anda akan segera melihat keadaan yang tadinya didiamkan orang banyak – menjadi keadaan yang sudah disentuh ujung api neraka.


Bukan kurangnya kemampuan yang melemahkan kehidupan,
tetapi tidak cukupnya kesungguhan untuk menggunakan kemampuan yang ada.

Bukan tidak adanya modal yang menghalangi pengembangan kehidupan, tetapi kurangnya penghormatan kepada diri sendiri sebagai modal utama pembaru kehidupan.

Pribadi yang lemah, dipermak oleh lingkungan.
Pribadi yang kuat, merancang lingkungan.

Bukan lingkungannya, pribadinya!

Jumat, 02 Januari 2009

Keluarga, Mutiara Tiada Tara



…Harta yang paling berharga adalah keluarga
Istana yang paling indah adalah keluarga
Puisi yang paling bermakna adalah keluarga…?


Potongan lagu ini menceritakan bahwa keluaga adalah rumah yang paling indah dan berharga. Rumah dengan keluaga yang membuat anggota-anggotanya merasa nyaman dan tempat yang paling dirindukan untuk pulang.

Sayang, tidak semua keluarga memiliki rumah yang manis. Beberapa bahkan menganggap rumahnya seperti neraka. Antaranggota berselisih, suami dan istri sering bertengkar, anak melawan orangtua, dan mertua cekcok dengan menantu. Rumah seperti ini membuat orang-orang yang tinggal didalamnya memilih menghindar, menjauh bahkan pergi tak mau pulang.

Nyaman atau tidaknya sebuah rumah ditentukan oleh bentuk hubungan antaranggota yang ada dalam rumah tersebut, seperti hubungan antara suami-istri, hubungan orangtua-anak, hubungan anak-anak dan juga hubungan mertua-menantu.

Panaskah Hubungan Suami Istri?
Hubungan ini diawali dengan pernikahan. Cinta kasih merupakan dasar penting dalam hubungan suami istri. 2 orang dengan asal-usul yang berbeda menjadi satu, tidaklah mudah untuk menjalin komunikasi. Namun, cinta kasih akan sangat membantu pasangan untuk saling menyesuaikan diri.

Cinta kasih adalah perasaan yang mendorong seseorang untuk memberi yang terbaik agar orang yang dicintai bahagia. Pemberian yang terbaik tidak harus barang yang mahal tetapi penerimaan dan penghargaan terhadap pasangan apa adanya

Cinta kasih juga akan mewujudkan kesetaraan hubungan suami istri . Dalam hubungan yang setara, mereka berbagi peran dan tugas secara adil, masing-masing pihak tidak merasa lebih unggul dari yang lain, atau lebih berkuasa dari yang lain. Tanpa kesetaraan, kekecewaan yang menumpuk dapat berakhir dengan ketidakpuasan hidup perkawinan. Kalau sudah begini, maka perselisihan dan petengkaran akan terus mewarnai hubungan suami istri yang bisa berujung pada perpecahan rumah tangga bahkan penindasan dan kekerasan dalam rumah tangga.

Hubungan Orangtua - Anak ≈ Kuno vs Keras Kepala
Menjadi orangtua berarti pasangan suami istri mendapat tugas dari Tuhan untuk merawat dan mendampingi anak-anak agar menjadi manusia baik. Tugas ini tidak mudah, karena anak bukan boneka melainkan pribadi yang memiliki sifat-sifat yang berbeda, keinginan-keinginan yang belum tentu sejalan dengan keinginan orangtua. Orangtua tidak dapat begitu saja memaksakan kehendaknya pada anaknya demi pertumbuhan anak yang lebih sehat.

Kesulitan-kesulitan dalam hubungan orangtua-anak dapat tejadi karena mereka hidup di zaman yang berbeda sehingga beberapa cara dan kebiasaan mereka juga berbeda. Disinilah pentingnya saling memahami. Anak tidak perlu menjadi keras kepala hanya karena merasa lebih tahu tentang dirinya dan zamannya. Bagaimanapun juga orangtua memiliki kelebihan karena pengalaman-pengalaman yang diperoleh dari tahun-tahun kehidupan yang telah dilaluinya. Penting bagi anak untuk mendengar arahan dari orangtua untuk hidup yang lebih baik.

Hubungan Anak-Anak ≈ Bagaimana Bisa Rukun?
Dengan saudaranya sendiri anak dapat memiliki teman bcicara, bercanda juga bertukar pikiran secara lebih bebas. Namun, tak jarang perselisihan terjadi antarmereka. Perselisihan antaranak perlu disikapi secara wajar sebagai proses belajar hidup bersama. Dari perselisihan ini anak dapat belajar cara menyampaikan sikap tidak setuju, cara kompromi dan berdamai.

Hubungan Mertua-Menantu ≈ Perlu Saling Mengerti!
Di Indonesia banyak rumah yang berisi keluarga besar karena anak-anak yang sudah menikah masih tinggal bersama orangtuanya. Kondisi ini membuat hubungan dalam keluarga semakin kompleks dan kadang rumit. Kehadiran menantu dalam keluarga menuntut penyesuaian yang lebih baik dari si menantu maupun keluarga besar.

Mertua yang merasa istimewa di hati anak direbut oleh menantunya, akan cenderung melihat banyak kekurangan pada menantu dan tanpa disadari membesar-besarkannya. Demikian halnya menantu yang merasa tidak diterima apa adanya menjadi tidak mau menyesuaikan diri dengan keluarga. Tak jarang perselisihan menantu-mertua ini mempengaruhi keharmonisan hubungan suami-istri.

Orangtua perlu menyadari bahwa anaknya sedang belajar membina keluarga sebagaimana dirinya dulu, sehingga bisa membuatnya menghargai dan menerima menantunya. Demikian halnya menantu agar lebih mau memperhatikan dan menyesuaikan dengan kebiasaan keluarga besar barunya

Jadi, hubungan keluarga yang harmonis adalah hubungan yang berlandaskan cinta kasih, diwujudkan dalam sikap dan tindakan untuk :
1. Menerima kelemahan, kelebihan masing-masing juga perbedaan-perbedaan
2. Menghargai satu sama lain, tidak saling merendahkan untuk menunjukkan diri lebih baik dan lebih benar
3. Memahami satu sama lain melalui dialog dan komunikasi yang terbuka
4. Terus belajar melalui hubungan-hubungan dalam keluarga untuk diri dan keluarga yang lebih sehat.

Hubungan yang harmonis dalam keluarga membuat suasana rumah menjadi nyaman dan menyenangkan. Lebih penting lagi membuat anggota keluarga dapat bertumbuh secara optimal, dan mampu mengarungi kehidupan secara lebih baik. Inilah wujud dari keluarga yang sehat. Dengan demikian kita bisa melanjutkan nyanyian di atas.. ..mutiara tiada tara adalah keluarga......? ?

Berkelit dari Stres

DALAM hidup sehari-hari, kita dihadapkan pada berbagai tuntutan dan tekanan. Ada yang mampu menyesuaikan diri dengan tenang dan santai; yang lain menanggapi dengan cemas, gelisah, dan marah. Ketidakmampuan menyesuaikan diri menimbulkan ketegangan jiwa, seperti menahan beban sangat berat. Itulah stres.

Seorang mahasiswi pascasarjana, sebutlah namanya Lina, untuk kesekiankalinya keluar dari ruang kerja dosen pembimbing tesisnya dengan lunglai. Sudah lebih dari setahun ia mondar-mandir konsultasi, tetapi hasilnya belum tampak, sementara beasiswa yang ia terima sudah hampir habis.

Bila tidak lulus dalam dua bulan ini, pada semester berikutnya ia harus menanggung sendiri biaya studinya. Padahal, ia juga harus menghidupi diri sendiri untuk keperluan sehari-hari karena sudah yatim piatu sejak SMP.

Sebenarnya, ia sudah mulai tertekan sejak teman sekelasnya lulus tepat waktu. Sempat memiliki indeks prestasi tertinggi di kelas, dan menjadi nomor dua sejak semester kedua, pada dasarnya Lina sangat bersemangat untuk menjadi yang terbaik dan lulus cepat.

Pada mulanya, ia senang mendapatkan pembimbing dari institusi yang sudah mapan. Namun, ternyata proses bimbingan sangat alot, dosen mengulur-ulur waktu, dan akhirnya tidak mendapatkan umpan balik yang memadai.

Ia pernah mencoba mengonsultasikan tulisannya pada beberapa dosen lain yang lebih terbuka, dan mereka semua menilai sebenarnya tidak banyak masalah pada tulisannya. Ia semakin tertekan sejak karibnya sekelas hampir lulus meski diselingi melahirkan anak. Bahkan, adik kelasnya sudah dua orang yang hampir selesai.

Dengan hampir habisnya beasiswa yang ia terima, dan hasil konsultasi terakhir ia masih belum diizinkan mengambil data ke lapangan, ia merasa tidak sanggup lagi menghadapi situasi. Terlebih-lebih, dosen pembimbing kembali melontarkan kata-kata yang menyerang pribadinya. Selama ini, ia sudah selalu mengalah demi kelancaran proses bimbingan, tetapi tidak berpengaruh.

Apa itu stres?
Richard Bugelski dan Anthony M Graziano (1980) menyatakan bahwa stres adalah suatu istilah umum yang digunakan psikolog-psikolog untuk menunjukkan ketegangan seseorang karena tidak mampu mengatasi tuntutan-tuntutan atau tekanan-tekanan sekelilingnya. Dalam bahasa sehari-hari, stres adalah suatu kondisi ketegangan yang kemudian mempengaruhi fisik, mental, perilaku seseorang.

Jadi, stres melibatkan interaksi antara individu dan lingkungannya. Kebanyakan orang menyebut stres untuk menunjuk pada kondisi seseorang tidak mampu mengatasi tuntutan, keinginan, harapan, atau tekanan dari sekelilingnya yang berakibat, baik pada fisik, mental, maupun perilakunya.

Hubungan dengan kepribadian
Cara kita dalam memberikan tanggapan terhadap stres berbeda-beda. Tanggapan tersebut tidak hanya ditentukan oleh faktor fisiologis saja, melainkan juga ditentukan oleh faktor psikologis, yaitu kepribadian. Orang dengan tipe kepribadian Tipe A akan berbeda dalam menanggapi stres dibandingkan dengan orang yang memiliki kepribadian Tipe B.

Orang yang memiliki kepribadian Tipe A adalah mereka yang ingin segalanya serba cepat, tidak sabaran terhadap kemajuan suatu peristiwa, bergulat keras untuk memikirkan dua atau tiga hal sekaligus, tidak dapat mengatasi waktu luang, dan terobsesi oleh bilangan yang mengukur sukses mereka dalam bentuk berapa banyak yang akan dia peroleh.

Sebaliknya, orang yang memiliki kepribadian Tipe B adalah mereka yang sabar dan tidak pernah merasakan urgensinya waktu; tidak merasa perlu menonjolkan prestasi, kecuali dituntut oleh situasi; lebih mengutamakan kesenangan dan santai; dan dapat santai tanpa rasa salah.

Dari ciri-ciri di atas, orang yang memiliki kepribadian Tipe A lebih mudah mengalami stres daripada orang kepribadian Tipe B. Dari penelitian, kita mengetahui bahwa orang dengan kepribadian Tipe A lebih mudah mendapatkan serangan jantung, darah tinggi, dan stroke.

Contoh kasus di atas menunjukkan bahwa mahasiswi tersebut mengalami stres karena tekanan yang ia terima dari dosen, tuntutan dari dirinya sendiri untuk cepat lulus, serta tuntutan dari bos tempat ia bekerja untuk memperlihatkan unjuk kerja yang baik. Ia juga takut kehabisan waktu studi dan takut kehilangan pekerjaan.

Akibatnya beragam
Menurut Cox (1978), akibat dari stres dapat dikelompokkan, antara lain :
* Akibat fisik, antara lain meningkatnya detak jantung, tekanan darah dan gula darah, banyak mengeluarkan keringat, mulut terasa kering, sesak napas, demam, dan mati rasa.
* Akibat psikologis, antara lain cemas, agresif, apatis, bosan, depresi, kelelahan, frustrasi, merasa berdosa dan malu, cepat marah, murung, merasa harga diri rendah, kesepian, dan mudah gugup.
* Akibat pada perilaku, antara lain menjadi pencandu obat, makan banyak atau kurang nafsu makan, pemabuk dan perokok, semaunya sendiri, dan gemar mengucapkan kata-kata kotor/jorok .
* Akibat kognitif, antara lain tidak mampu membuat keputusan, sering lupa, dan sangat sensitif terhadap kritik.
* Akibat dalam pekerjaan, antara lain sering tidak masuk kerja, hubungan dengan teman kerja buruk, dan produktivitas menurun.
Mahasiswi yang menjadi contoh kasus di atas telah mengalami beberapa akibat stres di atas, terutama akibat psikologis, akibat kognitif, dan akibat dalam pekerjaannya.

Kiat mengelola
Stres tidak dapat dihindari karena senantiasa akan muncul dalam kehidupan kita. Mau tidak mau, kita harus menghadapinya secara aktif dan menguasai situasi khusus yang menyebabkannya.

Dalam mengatasi stres, kita tetap memfokuskan pada kejadian-kejadian yang menyebabkan stres (stressor) dan mencoba menghadapinya meskipun perasaan cemas, gelisah, dan marah melingkupi kita.

Dalam keadaan stres, kita dihadapkan kepada dua hal yang saling berkaitan, yaitu menghadapi stres tersebut secara efektif dan mengontrol kecemasan, kegelisahan, dan kemarahan dengan baik. Dengan demikian, kita tidak dikuasai oleh stres, justru mengelolanya menjadi suatu yang positif.

Ada tiga cara mengelola stres dengan baik, yaitu:
* Menghindari (avoidance). Dalam hal ini kita mencoba menghindarkan diri dari hal-hal yang membuat kita stres. Kenalilah kegiatan-kegiatan apa saja yang dapat menimbulkan stres pada diri kita. Dengan mengenali, kita dapat menjauhinya sehingga terhindar dari stres tersebut. Namun, bila terpaksa harus menghadapinya, kita lebih siap karena sudah tahu akibatnya dan dapat mengatasinya dengan lebih santai dan bijak. Contohnya, kita menghindari jalanan yang biasanya macet dengan mencari jalan lain yang lancar walaupun mungkin lebih jauh.

* Mengalihkan stressor menjadi hal positif. Kita tidak membiarkan stressor menguasai kita, sehingga kita benar-benar menjadi stres. Contohnya, kita tidak membiarkan rasa jemu saat menunggu seseorang atau melakukan perjalanan jauh dengan membaca atau mendengarkan musik.

* Mitigasi (mitigation). Kita diharapkan dapat mengelola stres dengan efektif dengan memelihara tubuh secara baik. Cara ini dapat membantu jiwa sekaligus raga kita dalam mengendalikan atau mengontrol stres yang menimpa.

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan, antara lain :
- Olahraga. Berolahraga teratur tidak hanya membuat tubuh semakin sehat. Kita juga lebih enak tidur sehingga seluruh otot dan saraf kita dapat beristirahat dengan baik. Berolahraga sekaligus berfungsi sebagai psychological relaxer yang mengalihkan perhatian kita dari hal-hal yang membuat stres.

- Rekreasi. Dengan rekreasi kita menjauhkan pikiran dan emosi terhadap hal-hal yang membuat stres. Rekreasi sekaligus istirahat singkat sambil bergembira ria akan menyebabkan pikiran dan semangat kita segar kembali.

- Rileks. Rileks terbukti dapat mencegah akibat stres pada diri kita dengan menurunkan denyut jantung dan tekanan darah, serta memberikan rasa tenang. Rileks dapat dilakukan dengan meditasi, latihan pernapasan dalam, tai chi, pemijatan, berdoa (zikir). Cara paling gampang adalah bernapas dengan tenang dan teratur sambil memikirkan hal-hal yang menyenangkan.

Upaya mengatasi stres akan gagal jika kita mencoba mengabaikannya, menyangkal, atau malahan lari dari stres yang dialami. Dalam kasus Lina di atas, dengan bantuan pembimbing lain, selama ini ia telah melakukan banyak hal untuk mengusahakan keserasian antara dirinya dan dosen pembimbingnya, meski belum menunjukkan hasil efektif. Langkah terakhir yang perlu dilakukan adalah rileks.

Membuka Diri

MEMBUKA diri terhadap orang lain (self disclosure) itu ibarat mata uang, memiliki dua sisi. Di satu sisi berarti memasuki hubungan yang lebih matang. Di sisi lain, terdapat risiko dicemooh dan dikhianati. Bagaimanapun, self disclosure merupakan isyarat berkembangnya hubungan yang sehat yang perlu dikelola.

Kadang-kadang kita dibuat kagum oleh seseorang yang dengan sangat terbuka dapat menceritakan apa saja yang ia pikirkan, rasakan, dan inginkan. Meskipun banyak kesulitan atau kekurangan, hidup seolah dirasa sebagai hal yang ringan, dan dilakoni tanpa beban.

Kita dapat menjadi lebih nyaman berinteraksi dengan pribadi seperti itu. Karena ia terbuka, kita pun dapat menjadi lebih terbuka, dan akhirnya relasi berlangsung lebih akrab dan saling percaya.

Namun, pada kesempatan lain kadang terjadi sebaliknya. Kita justru merasa muak dengan seseorang yang terlalu membuka diri sampai ke hal-hal yang sangat pribadi, yang menurut kita tidak pantas untuk diceritakan kepada orang banyak.

Sebut saja namanya Mr X, kepada teman-teman di luar lingkungan kantor ia menceritakan bagaimana kebiasaan-kebiasaan yang terjadi di kantornya: bahwa proyek di departemennya itu hanya 20 persen yang dioperasionalkan, dan 80 persen lainnya dibagi-bagi di antara pimpinan dan karyawan tertentu, termasuk dirinya. Ia menceritakan hal itu bukan didasari oleh keprihatinan karena ia sendiri senang menerima bagian.

Pada saat lain, Mr X menceritakan bahwa ia sedang ada janji dengan seorang bos untuk sama-sama pergi ke tempat praktik seorang paranormal demi keperluan tertentu. Bukan untuk urusan penyakit atau gangguan lain, tetapi buat melancarkan suatu tujuan yang tidak ia ceritakan. Cerita tersebut di lingkungan orang-orang yang hidup dengan budaya penuh etika bukannya menimbulkan simpati, malah menghasilkan cemoohan.

Hal ini juga terjadi dalam percakapan yang semula akrab antara sopir taksi (pria) dengan penumpang wanita. Pada akhir percakapan, si penumpang yang semula senang mendengar kisah sehari-hari sopir taksi akhirnya merasa terhina karena dia belakangan membanjirinya dengan kisah keberhasilan berkencan dengan beberapa wanita penumpang taksinya.

Di samping kondisi positif dan negatif seperti digambarkan di atas, ada kondisi lain yang dapat kita jadikan referensi untuk menentukan kapan dan bagaimana sebaiknya kita membuka diri.

Di sebuah perusahaan, Lisa (bukan nama sebenarnya) nyaris mengalami PHK setelah hampir setahun bekerja. Pasalnya, bukan karena ia tak punya kemampuan atau melakukan penyimpangan, tetapi karena adanya masalah keluarga yang mengganggu, sehingga kinerjanya sebagai asisten manajer sangat merosot.
Selama masalah itu berlangsung Lisa sangat gelisah, tetapi tidak berani bercerita kepada atasan karena merasa tidak pantas membicarakan persoalan pribadi dengan orang kantor. Singkat cerita, ketika ia mendapat teguran atasan, akhirnya ia memberanikan diri bercerita, dan akhirnya atribusi atasannya berubah.

Manajer itu kembali menaruh kepercayaan atas kemampuan Lisa, dan ia sendiri terus memberikan dukungan dalam mengatasi persoalan Lisa. Akhirnya Lisa dapat bekerja lebih tenang karena dimengerti keadaannya. Dengan atasan, meski tetap formal, berkembang pula relasi personal yang memberikan rasa nyaman.

Di balik kisah-kisah di atas secara sepintas kita dapat menemukan bahwa keterbukaan diri diperlukan, terutama dalam hubungan-hubungan jangka panjang (persahabatan, perkawinan, pekerjaan, dan sebagainya), dan bahwa perlu ada aturan main tertentu agar keterbukaan diri itu bersifat konstruktif.

De Janasz, Dowd, dan Schneider (2002) dalam bukunya Interpersonal Skills in Organizations memberikan informasi mengenai bagaimana membuka diri, manfaat, serta hal-hal yang menghambat.

Hal yang Diungkapkan

Ada rambu-rambu dalam pengungkapan diri agar hubungan menjadi efektif:
- Lebih mengungkapkan perasaan daripada fakta. Bila kita mengungkapkan perasaan terhadap orang lain, berarti kita mengizinkan orang lain mengenali siapa kita sesungguhnya. Misalnya, informasi bagaimana kita mengembangkan hubungan dengan saudara-saudari kita membuat orang lain memahami kita, daripada sekadar memberikan informasi bahwa kita memiliki saudara.

- Semakin diperluas dan diperdalam. Mungkin kita masih mengalami perasaan tidak nyaman berbagi pengalaman dengan seseorang yang seharusnya dekat dengan kita. Untuk itu perlu dilakukan pengembangan hubungan ke arah yang lebih dalam (lebih mengungkapkan perasaan terhadap isu tertentu) dan diperluas (dengan mendiskusikan berbagai isu, seperti pekerjaan, keluarga, pengalaman religius, dan sebagainya).

- Fokus pada masa kini, bukan masa lampau. Bila berbagi pengalaman soal masa lalu menjelaskan mengapa dulu kita melakukan tindakan tertentu adalah bersifat katarsis (melepaskan ketegangan), tetapi dapat meninggalkan perasaan bahwa kita lemah. Hal ini terjadi terutama bila keterbukaan tidak berlangsung timbal balik. Jadi, lebih baik kita fokus pada situasi sekarang.

- Timbal balik. Kita harus selalu mencocokkan tingkat keterbukaan kita dengan tingkat keterbukaan orang yang kita jumpai. Hati-hati, jangan terlalu membuka diri secara dini, sebelum melewati masa-masa pengembangan hubungan yang familier dan saling percaya. Di sisi lain, bila diperlukan, tidak perlu menunggu orang membuka diri. Jangan takut untuk memulai langkah penting membangun hubungan. Berikan contoh, dan orang lain akan menyesuaikan diri. Bila orang tidak merespon secara seimbang, hentikan langkah tersebut.

Banyak Manfaat
Keterbukaan diri memiliki manfaat bagi masing-masing individu maupun bagi hubungan antara kedua pihak. Dengan membuka diri dan membalas keterbukaan diri orang lain, kita dapat meningkatkan komunikasi dan hubungan dengan orang lain.
Secara rinci manfaatnya adalah:

- Meringankan. Berbagi dengan orang lain mengenai diri atau persoalan yang kita hadapi, dapat memberikan kondisi psikologis yang meringankan. Misalnya, cerita tentang ketidakmampuan menghadapi ujian atau berakhirnya hubungan dengan seseorang. Bagaimana kita mengatasi hal itu? Bagaimana pandangan orang lain? Dengan membuka diri, kita memperoleh tambahan perspektif yang membantu diri sendiri melihat titik frustrasi dari sudut pandang orang lain.

- Membantu validasi (menguji ketepatan) persepsi terhadap realita. Dengan sudut pandang sendiri, kita mungkin cenderung menggunakan ukuran yang idealistis menurut diri sendiri. Bila kita mengomunikasikan hal tersebut dengan seseorang yang tepat (yang memberikan simpati, suportif, dapat dipercaya, dan pendengar yang baik), kita tidak hanya mendapatkan persetujuan, tetapi juga informasi yang diperlukan untuk lebih memahami diri sendiri, yang kita perlukan agar memahami dunia secara lebih realistis.

- Mengurangi tegangan dan stres. Bila kita menghadapi ketegangan atau stres karena suatu hal, bila tidak diungkapkan akan berkembang menjadi eksplosif (mudah meledak). Sebaliknya, bila diungkapkan kepada orang lain, kita akan menemukan jalan keluar. Andaikan tidak mendapat jalan keluar, setidaknya lebih ringan karena kita merasa tidak sendirian. Hal ini justru dapat membuat kita menjadi lebih dekat dengan orang lain dan menambah rasa nyaman pada saat itu maupun dalam relasi selanjutnya.

- Meringankan fisik. Terdapat keterkaitan antara pikiran dengan sistem tubuh kita. Adanya pengaruh positif pada pikiran (akibat pengungkapan diri), berakibat pada fisik. Berbagi atau mengungkapkan diri dengan orang lain, membuat stres kita berkurang, kecemasan berkurang, dan meredakan juga detak jantung dan tekanan darah. Dengan kata lain, pengungkapan diri dapat berpengaruh positif terhadap kesehatan fisik, selain emosi.

- Alur komunikasi yang lebih jelas. Dengan menunjukkan keinginan untuk membuka diri terhadap orang lain, dan menghargai pengungkapan diri orang lain, berarti kita meningkatkan kemampuan untuk memahami sudut pandang atau perspektif yang berbeda. Dengan demikian, kita akan lebih percaya diri untuk mengklarifikasi niat-niat atau makna-makna dari orang lain. Adanya umpan balik lewat diskusi terbuka, kekaburan dalam komunikasi diminimalkan.

- Mempererat hubungan. Bila antarekan lebih saling mengenal satu sama lain, terjadi efek timbal balik: keterbukaan mengembangkan rasa senang yang semakin meningkatkan keterbukaan dan berakibat makin kuatnya rasa senang. Tanpa pengungkapan diri, tingkat keeratan hubungan dan kepercayaan berada pada level rendah. Dengan keterbukaan dihasilkan kepercayaan, dan dengan kepercayaan dihasilkan kerja sama. Di dalam organisasi, kerja sama dan saling percaya ini menentukan inovasi yang sangat penting agar tetap survive dan mampu berkompetisi. Lebih dari itu, hasil riset menemukan bahwa bila antarekan kerja semakin menyukai kerja sama, mereka lebih produktif dalam mengerjakan proyek atau dalam situasi tim.

Jumat, 31 Oktober 2008

Berargumentasi Tanpa Emosi

  Saling serang dengan kata-kata untuk mengajukan alasan atau argumen masing-masing, acapkali membuat emosi tidak terkendali, sehingga potensial terjadi konfrontasi. Agar perdebatan tidak berkepanjangan, kuasai aturan dasar berargumentasi.

KONDISI FIT
  Jangan pernah mendiskusikan masalah penting ketika Anda lelah. Pasalnya, ketika lelah, Anda akan menanggapi sesuatu dengan sikap yang terdistorsi. Jika lawan bicara lelah, tundalah diskusi tersebut sampai kondisinya membaik.

MAKSIMALKAN TELINGA
  Biasanya dua orang yang sedang berdebat akan berlomba berbicara. Hal tersebut hanya akan menguras energi. Dengarkan argumentasi lawan bicara sampai tuntas. Kadang-kadang, seseorang sulit memilih kata yang tepat untuk menyatakan pendapatnya. Dengarkan dengan sabar kalimat demi kalimat yang dilontaran lawan bicara. Jangan cepat mengambil kesimpulan sebelum kalimatnya selesai.

BAHASA SIMPATIK
  Gunakan kalimat bernada simpatik untuk mendebat pendapatnya. Jangan mulai dengan kalimat, "Anda salah karena...", akan terdengar enak di telinganya jika Anda memulai dengan kalimat, "Saya memahami cara berpikir Anda, namun apakah tidak sebaiknya..."

PERHATIKAN INTONASI
  Aturlah nada suara agar tetap terdengar lembut. Apabila lawan bicara mulai jengkel, usahakan tetap tenang. Apabila lawan bicara meninggikan nada suaranya, jangan terpancing dan tenggelam dalam emosi yang berlebihan. Tetaplah proaktif dan bicaralah dengan tenang. Ini akan membuat nada suara lawan bicara Anda ikut merendah.
  Apabila lawan bicara tidak dapat berbicara secara rasional, katakan bahwa Anda akan mendiskusikannya di lain waktu, dalam suasana yang lebih kondusif.

MEMAAFKAN DAN MELUPAKAN
  Ketika perbedaan pendapat muncul, hindari mengungkit-ungkit kesalahan dia di masa lalu. Yang Anda hadapi adalah persoalan hari ini, bukan persoalan kemarin. Jangan menjadi orang yang suka mengorek kesalahan di masa lalu, tapi fokuslah pada mengatasi masalah yang terjadi saat ini. 

JANGAN MELIBATKAN PRIBADI
  Pandanglah masalah secara obyektif dan jangan melibatkan pribadi. "Apa maksud Anda? Kata-kata Anda melukai prasaan saya!" Komentar-komentar ini sering terdengar dalam situasi diskusi yang memanas. Ingat, hanya karena seseorang tidak menyukai pendapat Anda, bukan berarti dia tidak menyukai Anda. Anda dan pendapat Anda adalah dua hal yang berbeda.

SERTAKAN BUKTI
  Lengkapi argumentasi Anda dengan bukti atau data yang akurat. Berdebat tanpa bukti atau data yang kuat hanya akan mempermalukan diri sendiri. Siapkan amunisi berupa data penunjang yang mendukung argumentasi, sebelum masuk ke ruang diskusi.

TERIMA KEKALAHAN
  Jangan bersikukuh pada pendapat sendiri. Pandanglah suatu peristiwa dari berbagai sisi. Anda mungkin menganggap pendapat Anda benar. Tapi cobalah membuka diri. Jangan eogis. Introspeksi diri, barangkali memang ada yang kurang dari data atau informasi Anda.

MINTA MAAF
  Meski yakin bahwa Anda benar dan orang lain salah, tidak ada salahnya meminta maaf jika perkataan Anda menyinggung hatinya. Permintaan maaf Anda akan menurunkan ego orang itu dan membuatnya tahu bahwa ia sangat berarti bagi Anda. Mungkin Anda tidak sependapat dengannya, tapi paling tidak Anda menghargainya.

BERKEPALA DINGIN
  Seburuk apa pun ucapan lawan bicara, tanggapi dengan kepala dingin. Kunci utama memenangkan argumentasi adalah tetap tenang walau lawan bicara menyerang habis-habisan. Pikirkan hal-hal yang baik ketika perdebatan sudah memuncak. Wajah Anda akan terlihat selalu tenang. Dan ini akan membuat lawan bicara kalah wibawa.

SPORTIF
  Ketika dalam suatu rapat pendapat Anda dikalahkan oleh suara terbanyak, terimalah dengan lapang dada. Anda boleh menganggap pendapat Anda benar, tapi ketika rapat sudah memutuskan, Anda harus menerima dan menjalankannya dengan baik. Hindari membawa perdebatan di dalam rapat ke luar ruangan.
Sumber : kompas.com

9 Cara Jaga Reputasi dan Harga Diri

 Mempertahankan harga diri berarti segala sesuatu yang berhubungan dengan rasa hormat terhadap diri sendiri, rasa percaya diri, serta sikap adil. Supaya terhindar dari kesalahan yang dapat merusak semua itu, ada baiknya menerapkan kiat-kiat berikut agar karier Anda terus meroket.

1. TUNJUKKAN SIKAP POSITIF
Selalu tunjukkan sikap positif pada atasan, rekan kerja, dan kondisi kantor. Buktikan bahwa Anda aset kantor yang berharga dan berkontribusi terhadap perkembangan perusahaan.

2. JANGAN SUKA MENGELUH
Sikap Anda yang sering mengeluh, sering izin tidak masuk kantor karena sakit, atau meminta keringanan atas batas waktu suatu tugas, akan membuat atasan Anda tidak senang. Sikap tidak senangnya ini akan mempengaruhi karier serta rasa percaya diri Anda. Dan kenyataannya, tukang mengeluh tidak akan mendapatkan promosi.

3. PEKERJAAN SESUAI
Anda berhak mendapatkan pekerjaan dengan kompensasi yang sesuai dan pantas, serta kondisi pekerjaan yang aman. Perjuangkan hak Anda dan jangan jual harga diri. Jangan pernah takut untuk menanyakan segala sesuatu hal yang penting bagi diri Anda kepada atasan. Bersikap tegas tetapi jangan menyerang serta utamakan kepentingan perusahaan.

4. JANGAN SELALU IKUT ARUS
Jangan pernah takut untuk mandiri. Bekerja sama dengan sesama rekan kerja, itu perlu. Tapi, Anda tidak akan dihargai bila membiarkan teman sekerja memanfaatkan Anda.

5. JAGA REPUTASI
Tidak ada salahnya bersenang-senang sesudah jam kerja atau pada acara-acara yang diadakan kantor, tetapi tetap jaga sikap dan perilaku. Perilaku sama halnya dengan harga diri.

6. MASALAH PRIBADI? NO!
Jaga volume suara bila berbicara di telepon untuk masalah-masalah pribadi.

7. KENDALIKAN EMOSI
Jika teman sekerja ada yang berulah sehingga mengganggu pekerjaan Anda, sebaiknya tetap kendalikan emosi. Reaksi Anda akan memengaruhi persepsi orang lain terhadap Anda. Pertahankan harga diri dengan mengendalikan emosi.

8. WASPADA PELECEHAN
Laporkan pada pihak berwenang bila terjadi pelecehan di tempat kerja, baik yang menimpa Anda atau teman sekerja. Pelecehan di tempat kerja berpengaruh kepada harga diri seseorang.

9. KEPEMIMPINAN KREATIF
Di dalam dunia kerja, inovasi merupakan kunci masa depan. Gunakan bakat kreatif Anda untuk membantu pertumbuhan perusahaan tempat Anda bekerja. Hal ini akan meningkatkan rasa percaya diri Anda.

Mengungkap Emosi Positif

GAYA bergaul, cara berkomunikasi, cara menyampaikan pendapat, berdebat, berargumentasi, cara makan, pilihan jenis makanan, bahkan cara berpakaian, serta gaya hidup tampak seolah hampir secara menyeluruh terlanda arus globalisasi yang memberi efek positif ataupun negatif.

Meski demikian, apabila diamati dan disimak secara cermat, masih ada aspek komunikasi yang seakan tidak tersentuh arus positif globalisasi itu sendiri, yaitu mengungkap reaksi emosi positif secara spontan dengan upaya tulus untuk menghargai orang lain yang telah menunjukkan prestasi dalam karya nyata, apalagi yang memberi perlakuan baik kepada kita. Terhambat dalam mengungkap emosi positif dapat menjadi sumber konflik perkawinan yang ternyata bisa berakibat fatal.

Kasus

”Dia orang yang tidak tahu terima kasih, tidak pernah mau minta maaf kalau salah. Saya sakit hati sekali karena kalau saya yang salah sedikit saja dia memaki saya dengan kata-kata kasar. Kata-kata goblok dan bodoh mengalir bagai air sehari-hari.

”Saya merasa tertekan dan hilang kepercayaan diri. Saya sebal sekali sama dia, rasanya sudah tidak tersisa lagi perasaan kasih terhadap dia. Yang ada saya ingin cerai dari dia, tetapi kalau saya bilang saya mau cerai, dia mengatakan, ’Silakan saja pergi dari rumah ini. Jangan harap saya kasih harta dan jangan harap kamu bisa lihat anakmu.’

”Kalau sudah diancam begitu, saya takut sekali karena walaupun peraturan menyatakan anak umur di bawah lima tahun hak asuhnya ada di pihak ibu apabila terjadi perceraian, tetapi dia banyak uang, Bu. Dia bisa menyewa pengacara mahal, mungkin saja dia bisa dapat hak asuh anak saya, Bu. Anak saya baru umur tiga tahun, saya tidak tega meninggalkannya, Bu.” Demikian U (34), dengan air mata di pelupuk.

Selanjutnya, U bercerita pertengkaran selalu bermula dari ”Saya tidak terima dimaki, saya melawan.” Biasanya setelah bertengkar, U akan mendiamkan suaminya selama 3-4 hari, tetapi kemudian tidak enak sendiri dan mulai menegur suami kembali.

”Mungkin terkadang timbul rasa salah, tetapi dia tidak akan pernah minta maaf kepada saya. Kebiasaannya yang lain yang sering membuat saya kesal adalah dia sering mengompensasikan rasa salahnya dengan membelikan saya macam-macam benda yang sebenarnya tidak saya inginkan.

”Di pikirannya, yang penting cuma uang dan barang, dia pikir kalau sudah kasih uang, kasih barang, masalah selesai. Sebal saya,” U melanjutkan keluhannya.

Konseling perkawinan

Konseling perkawinan tidak akan efektif bila dilakukan hanya dengan salah satu pasangan. Menghadirkan suami menjadikan konseling lebih efektif karena relasi kasar dari pihak suami, walaupun ada kontribusi dari masa kecilnya, akan semakin kuat bila pihak istri tanpa sadar dan terdorong kekesalan hatinya justru bereaksi yang bisa meningkatkan kadar kekasaran sikap suami.

Mengapa? Pengaruh unsur timbal balik antara pasangan dalam berkomunikasi akan menciptakan iklim keluarga. Tampaknya, sikap perlawanan U untuk menghentikan kekasaran suami justru membuat suami menjadi semakin kasar.

Dalam ungkapannya, suami U menyatakan, ”Bu, sebenarnya saya sangat mencintai istri saya, saya tidak ingin bercerai darinya. Hanya saya memang sangat emosional dan sering tidak mampu mengendalikan ucapan saya dan akhirnya keluar makian beruntun. Saya tambah kesal bila istri saya melawan dan dia mampu mendiamkan saya berlama-lama. Dia sangat sensitif, sedikit tersinggung perasaannya saja sudah dengan mudah minta cerai, Bu. Saya tidak ingin keluarga saya hancur. Saya sayang kepada anak dan istri saya.”

Hal yang kemudian diperoleh dalam sesi konseling tersebut adalah setelah U diberi kesempatan mengungkapkan unek-unek kekesalannya terhadap suami yang sering berucap kasar, terlihat ekspresi wajahnya berubah, mulai tersenyum dengan kemudian mengatakan, ”Bu, sebenarnya saya tahu suami saya baik hati karena saat dia santai dan kami sedang tidak bertengkar dia adalah kawan bercerita yang enak. Bisa diajak diskusi dan sering menemukan solusi masalah yang tepat.”

Mengungkap emosi positif

Hubungan perkawinan kedua pasangan tersebut di atas dapat diperbaiki. Bagaimana caranya? Caranya dengan meminta kedua pasangan berlatih untuk menghargai satu sama lain, bahkan untuk hal-hal kecil sekali pun.

Hendaknya U dan suami saling mencermati apa yang telah dilakukan masing-masing dan menyenangkan. Ucapkanlah terima kasih dan berlatihlah memberi pujian terhadap perlakuan baik pasangan.

Misalnya, masakan U enak, ungkapkanlah secara terbuka pujian terhadap U, dengan ”Seger banget sayur bening buatanmu ini.” Atau bila suami berpenampilan bersih dan serasi suatu pagi, ungkapkanlah penghargaan terhadap penampilannya dengan misalnya, ”Hari ini kamu keren banget.”

Pada awalnya pasti terasa janggal, tetapi alah bisa karena biasa. Yang penting, setiap perubahan sikap positif sedikit pun dari pasangan harus dihargai. Ketahuilah penghargaan terhadap pasangan yang tulus, dengan ungkapan disertai kontak mata penuh kasih, akan membuat iklim relasi keseharian dengan pasangan terasa nyaman.

Sesekali kesal dan marah adalah hal biasa, tetapi ungkapkan pula rasa kesal/marah dengan cara lebih bijaksana. Dengan demikian, U pun tidak akan merespons dengan gaya melawan yang justru membuat suaminya semakin. ***


Sumber : Kompas Cetak

Reaksi terhadap Konflik

Dalam kehidupan keseharian kita tidak pernah luput dari konflik, baik yang bersifat internal maupun interpersonal. Bagaimana kita menyiasati konflik yang kita hadapi sangat bergantung pada tipe kepribadian dan kadar motivasi kita mencari solusi sehat sehingga penyelesaian konflik pun akan membuat perasaan nyaman dan bahagia.

Konflik internal terjadi dalam diri pribadi. Adakalanya kita ingin meraih dua kebutuhan pribadi dalam satu waktu. Misalnya, suatu saat kita dihadapkan pada keinginan mendampingi anak yang sedang sakit keras yang dirawat di rumah sakit, sementara pada saat yang sama kita harus tetap masuk kerja demi penyelesaian tugas kantor yang mendesak karena bila kita dinilai kurang loyal ada ancaman dipecat. Padahal, kita membutuhkan pekerjaan tersebut untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Lagi pula, mencari kerja saat ini sulit.

Konflik interpersonal terjadi karena kepentingan yang berlawanan antara kita dan pasangan kita, misalnya. Dengan kondisi keuangan terbatas, suami ingin mengganti mobilnya dengan yang baru, sementara sebagai ibu rumah tangga, atap dapur yang bocor membutuhkan perbaikan segera sebelum musim hujan tiba.

Perbedaan kebutuhan ini menyebabkan pertengkaran hebat dengan pasangan. Tentu saja harmoni relasi dengan pasangan pun terganggu karena pertengkaran yang hebat akan selalu diiringi sikap diam seribu basa antarpasangan dalam waktu beberapa minggu kemudian.

Frustrasi

Sebelum kita mendapatkan solusi terbaik dari kedua jenis konflik di atas, kita merasa tidak nyaman. Seolah ada perasaan menekan dalam dada dan mendorong kita menunjukkan reaksi frustrasi.

Ada empat jenis kelompok reaksi frustrasi, yaitu:

a. Depresi. Reaksi emosi terhadap situasi frustrasi yang membuat kita murung berlanjut, sedih, hilang gairah hidup, dan tidak berdaya berhadapan dengan dominasi suami dalam mengelola penghasilan keluarga karena pasangan kita tidak bisa menentukan prioritas kebutuhan keluarga.

Atap rumah yang bocor dan mengganggu kegiatan masak bagi kebutuhan primer keluarga tidak dianggap penting oleh suami. Suami lebih mengutamakan gengsi sosialnya sebagai pria berhasil karena dalam situasi ekonomi yang kurang positif saat ini tetap bisa mengganti mobil dengan mobil baru.

b. Reaksi agresi. Kita segera memberi perlawanan gigih, dan kalau perlu secara agresif memaksakan kehendak dengan memutuskan mendampingi anak di rumah sakit. Konsekuensinya, merancang argumentasi rinci bila ditegur atasan, sambil merancang tindakan provokatif bahkan konfrontatif saat mendapat kenyataan memang benar-benar terancam PHK. Perilaku agresi bisa berbentuk ungkapan verbal yang tajam, keras, atau bahkan nonverbal, dengan merusak bangunan dan peralatan kantor, misalnya.

c. Reaksi regresi biasanya ditunjukkan dengan menunjukkan perilaku ngambek, pundung, seperti halnya anak kecil yang tidak dituruti kemauannya. Jadi, reaksi emosi kita seolah kembali ke tingkat perkembangan jiwa terdahulu.

d. Reaksi apati. Kekesalan yang ditunjukkan dengan bersikap masa bodoh, acuh tak acuh, tidak peduli lagi akan kehidupan keluarga, seolah kehilangan kepekaan perasaan.

Solusi sehat

Keempat jenis reaksi terhadap situasi frustrasi tersebut kecuali merupakan kelompok reaksi emosi yang tidak dewasa terhadap hambatan pemuasan kebutuhan diri, tentu saja tidak terlepas dari tipe kepribadian yang sifatnya sangat individual.

Andai kita pada dasarnya pribadi depresi, maka kita akan cenderung memberi reaksi depresif, begitu pula halnya dengan pribadi agresif, regresif, dan apatis.

Tentu saja kita tidak akan membiarkan diri berlarut menyikapi konflik dengan cara tidak dewasa. Reaksi frustrasi yang tidak dewasa justru membuat kita terjerembap dalam situasi emosi yang tidak nyaman secara berlanjut.

Untuk itu, hanya terdapat satu kalimat kunci yang singkat, ”integrasikanlah fungsi rasio dan emosi kita secara proporsional”.

Caranya :

1. Mendasari penghayatan emosi dengan niat kuat menjadi lebih dewasa dari hari ke hari.

2. Berlatih mengungkapkan pendapat secara asertif. Misalnya, mengungkapkan kekhawatiran yang amat sangat akan kesehatan anak kepada atasan. Cara mengungkapkan kekhawatiran secara jelas dan sopan akan membuat atasan mempertimbangkan untuk menerima alasan ketidakhadiran kita di kantor pada saat genting tersebut.

3. Mempelajari cara mengelola frustrasi dengan memilih yang terbaik dari tiga alternatif teknik pengelolaan berikut.

a. Akomodatif, antara lain mencoba mengakomodasi keinginan pasangan mengganti mobil dengan mobil baru seraya menyisakan sedikit uang untuk perbaikan bagian atap dapur yang paling rusak.

b. Kompromistis. Bolehlah pasangan kita membeli mobil baru saat ini, tetapi penghasilan keluarga dalam waktu terdekat benar-benar digunakan untuk perbaikan atap dapur.

c. Kolaboratif. ”Tolong sisihkan sedikit uang dari sisa pembelian mobil, nanti akan saya gabung dengan simpanan saya untuk memperbaiki atap dapur.”

Nah, dengan uraian di atas, muncul pertanyaan dalam diri, sejauh mana kita berniat untuk secara perlahan tetapi pasti meningkatkan reaksi frustrasi yang kekanakan menjadi semakin mendewasa?


Sumber : Kompas Cetak
KEPIKUNAN atau demensia adalah kondisi yang lumrah dialami mereka yang sudah berusia lanjut biasanya 65 tahun ke atas. Kondisi ini biasanya ditandai dengan gejala mulai menurunnya daya ingat atau kemampuan berpikir yang kerap mengganggu aktivitas kehidupan sehari-hari. 

Secara medis, demensia dapat disebabkan oleh proses penuaan atau degenerasi sel-sel neuron (syaraf) otak, seiring dengan bertambahnya usia. Meski proses penuaan ini tidak dapat dihindari, namun ada upaya yang dilakukan supaya kepikunan ini dapat dihindari atau setidaknya ditunda.

Menurut Dr.H.Samino Sp.S (k), dari Asosiasi Alzheimer Indonesia, kepikunan dapat dihindari dengan membiasakan gaya hidup sehat dan melakukan stimulasi kognitif agar sel-sel otak terus aktif. Dengan upaya ini, sel-sel saraf akan terus menghasilkan zat neurotransmitter yang dibutuhkan otak.

"Istilahnya use it atau lose it. Kita harus terus menggunakan sel-sel saraf di otak kalau kita tak mau kehilangannya. Kalau kita diam, berarti sel-sel saraf pun diam tidak melakukan aktivitas," ujarnya di Jakarta, Rabu (6/8). 

Salah satu gaya hidup yang disarankan Dr Samino adalah menjaga kebutuhan nutrisi untuk otak melalui makanan bergizi. "Gaya hidup dibentuk oleh otak dan salah satu gaya hidup adalah kebiasaan makan. Makanan yang mengandung omega 3 dan kandungan antioksidan dalam sayur mayur serta buah-buahan itu direkomendasi untuk kesehatan sel-sel otak," ungkapnya. 

Hal lain yang perlu diupayakan, lanjut Dr Samino adalah olahraga secara teratur mengingat gerakan fisik tidak terlepas dari fungsi mental seseorang.

"Gerakan yang terencana dan bersifat fisiologis akan memberi stimulasi atau merangsang fungsi sel. Itu berarti sel-sel saraf termanfaatkan," terangnya.
 
Sementara itu, bentuk stimulasi kognitif yang sederhana adalah membaca. Kegiatan mendengar musik juga merupakan stimulasi karena dapat mengaktifkan otak pusat persepsi pendengaran dan juga memori apa yang kita dengar.

Hal lain yang penting dalam menghindari kepikunan adalah mengurangi paparan terhadap zat-zat toksik. Sejumlah zat atau logam beracun seperti merkuri, timbal dan alumunium, tegas Dr.H.Samino dapat memberi dampak negatif terhadap sel-sel otak meski efeknya bersifat jangka panjang. 

Zat timbal misalnya dapat terpapar melalui polusi dari asap kendaraan bila bahan bakarnya belum bebas dari logam berat tersebut. Paparan merkuri kemungkinan besar didapat dari penambangan emas atau bidang kedoketeran gigi. 

"Sedangkan paparan alumunium berpotensi berasal dari pasta gigi atau obat-obat maag yang mengandung aluminum silikat. Kalau pemakaiannya bersifat jangka panjang dan sering, tentu akan menambah risiko terjadinya penurunan kualitas daya ingat dan fungsi kognitif," tandasnya.
Sumber : Kompas.com

Waspadalah jika anda gampang lupa

 I ONLY wish there was some way I could spare Nancy from this painful experience. Inilah ungkapan akibat depresi berkepanjangan dari mantan Presiden Amerika Serikat ke-40, Ronald Wilson Reagan, menjelang kematiannya pada pada 5 November 1994.

Nancy Reagen, istri sang presiden secara berani mengungkapkan kepada publik bahwa suaminya meninggal karena penyakit alzheimer. Penyakit ini pula yang menyebabkan Reagen stres yang lantas memicu serangan jantung den stroke. Gara-gara peristiwa Reagen ini pula, alzheimer kemudian menjadi sangat populer.

Padahal, penyakit yang diberi nama sesuai nama penemunya, yakni Dr. Alois Alzheimer telah ditemukan pada 1907. Syahdan, Alois Alzheimer mengobservasi seorang perempuan berusia 51 tahun. Meski tak mengalami gangguan gerak, koordinasi den reflek perempuan itu kehilangan memori. Makanya, penyakit ini juga kerap pula disebut sebagai penyakit pikun.

Dari hasil observasi itu, Dokter Alzheimer menemukan serat dalam saraf perempuan itu berbelit-belit (neuro fibrillary). Saraf perempuan itu pun penuh gumpalan protein dalam jumlah sangat banyak atau plak amiloid.

Nah, amiloid protein yang membentuk sel-sel plak protein inilah yang dipercaya sebagai penyebab perubahan susunan kimia dalam otak. Akibatnya, banyak sel yang musnah hingga tak bisa menyampaikan pesan dari satu neuron ke neuron lain di dalam otak. "Plak inilah yang biasa ditemukan pada pasien pengidap alzheimer," tutur Steve Rahardja, Neurologis dari Rumah Sakit Siloam.

Perempuan lansia lebih berisiko 

Steve bilang, pasien alzheimer yang memiliki kelainan anatomis saraf bisa menyebabkan penurunan fungsi intelektual yang bisa mengganggu memori. Bahkan gangguan ini bisa berlanjut dalam kegiatan sehari-hari seperti penurunan kemampuan berbahasa, makan, den buang air besar. 

Bahkan, "Pada taraf yang akut, bisa membuat sang pasien mengalami ganguan jiwa," ungkap Steve. Ada banyak penelitian terhadap alzheimer. Hanya saja, hingga kini belum ada satupun ahli yang mampu mengungkapkan penyebab penyakit ini dengan jelas. Steve sendiri menduga kuat kalau alzheimer adalah penyakit genetik yang diturunkan keluarga kandung penderita. "Kelainan gen pada apolipoprotein E 4 yang berperan sebagai manifestasi penyakit ini," jelas Steve.

Lantas siapa yang rawan terkena penyakit ini? "Penyakit ini lebih banyak terjadi pada perempuan," kata Gerard Simon, Psikiater RS Jiwa Grogol. Sebab, faktor hormonal yang menyebabkan monopause juga menyebabkan turunnya kemampuan kognitif perempuan.

Ahli Psikogeriatrik Esther Ebeenezer dari kantor pengobatan psikologi fakultas pusat pengobatan universitas Malaysia (PPUM) menambahkan, pasien penderita alzheimer umumnya adalah mereka yang sudah lanjut usia (lansia) lansia, yakni yang usianya di atas 50 tahun. Untuk lansia di atas 65 tahun, risikonya lebih tinggi, yakni hingga 5%.

Lantaran menyerang para sepuh, gejala penyakin ini pun sulit dideteksi sejak dini. Sebab, umumnya orang berpendapat, semakin tua seseorang, daya ingatnya semakin melemah. Tak heran, banyak orang menganggap 'sering lupa' bukan gejala alzheimer, melainkan hal yang wajar akibat faktor usia.

Padahal, gejala awal, yakni fase terendah serangan alzheimer justru munculnya gangguan ingatan sederhana. Misalnya, mudah lupa pada hal-hal yang baru saja dikenalnya. Jika terus diabaikan, kondisi penderita akan semakin parah. Pasien akut tak mampu menguruskan diri sendiri, lupa rumah, tak kenal anggota keluarga terdekat

MELATIH SI KECIL MENGATASI KONFLIK

Bila sejak dini anak tak pernah diajarkan mengatasi konflik, ia bisa kehilangan teman, lho. Yang lebih parah, ia jadi terbiasa menyelesaikan masalah dengan kekerasan. 
 Hampir tiap hari anak Anda mungkin bertengkar, entah dengan anak tetangga maupun adiknya. Yang rebutan mainanlah, tak mau membagi kuenya, maupun rebutan tempat duduk, dan sebagainya. Daripada pusing mendamaikan mereka melulu, kenapa tak mencoba untuk mengajari anak mengatasi atau menghindari konflik-konfliknya? 
 Apalagi, seperti dikatakan psikolog dra. Tjut Rifameutia U.Ali-Nafis, MA, mengajari anak-anak menyelesaikan konflik sebaiknya dilakukan sejak dini agar setelah besar mereka terlatih menyelesaikan konflik tanpa kekerasan. Sebab, untuk melatih anak menyelesaikan konflik berarti juga melatih anak mengontrol kemarahan dan emosinya. Bukankah kekerasan terjadi lantaran orang tak bisa mengendalikan amarah dan emosinya? 
 "Tapi tentu ini bukan sesuatu yang mudah," ujar Tia, panggilan akrabnya. Terlebih lagi ciri anak-anak adalah kepolosan. "Kalau mereka mau marah, ya, marah saja, tak perlu menunggu atau menundanya alias tak perlu kontrol diri segala. Hal ini disebabkan mereka belum tahu aturan main dalam kehidupan," lanjut staf Pembantu Dekan III Fakultas Psikologi UI. Itulah mengapa, kita perlu mengajarinya. 
 Memang, tambah Tia, anak bisa belajar dari pengamatan, "tapi kalau salah persepsi, bagaimana?" Disamping itu, jika kita tak mengajarkan, saat anak besar nanti bisa mengganggu hubungan sosialnya. "Saat di sekolah, guru-gurunya akan kesulitan dalam menghadapi si anak. Di kelas ia bisa jadi pemarah, suka menjerit-jerit dan memukul temannya. Nah, lambat-laun ia bisa kehilangan teman, kan?" 
 Ia pun bisa diberi label oleh teman-temannya, entah sebagai si pemarah atau si brengsek, dan sebagainya. Kalau sudah begitu, akhirnya akan mengganggu perkembangan konsep dirinya. "Bisa-bisa ia akan bersikap, kalau aku enggak marah maka bukan aku lagi." 

ETIKA BERGAUL
 Jadi, Bu-Pak, betapa penting mengajari anak mengatasi maupun menghindari konflik. Kendatipun tak mudah, namun percayalah, kita pasti bisa melakukannya. Caranya dengan mengajak anak berdialog. Bukankah di usia prasekolah ia sudah bisa diajak berdialog? "Jelaskan pada anak tentang etika bergaul seperti bagaimana akibatnya jika mereka selalu berebut dan tak mau berbagi, apalagi sampai bertengkar dan memukul," tutur Tia. Ajarkan pula untuk bertenggang rasa dan berempati pada perasaan orang lain, juga pentingnya sikap saling memaafkan. 
 Tapi tentu tak cukup hanya bila dilakukan lewat dialog karena untuk mengajarkan sesuatu pada anak akan lebih efektif bila dilakukan juga lewat contoh sehari-hari dari orang tua. "Orang tua tentunya pasti pernah bertengkar atau berargumentasi di depan anak-anak, kan? Nah, pastikan anak-anak melihat kedua orang tuanya saling meminta maaf dan saling memperbaiki diri seusai bertengkar." Jangan lupa untuk selalu mengajari anak-anak meminta maaf dan berdamai seusai bertengkar. 
 Disamping itu, media bantu seperti buku-buku cerita atau film yang memperlihatkan nilai-nilai tersebut juga akan sangat membantu dalam mengajarkannya. 

LATIH MEMECAHKAN MASALAH
 Selanjutnya, yang harus kita lakukan ialah melatih anak memecahkan masalahnya sendiri. Jadi, bila anak-anak sedang bertengkar, biarkan saja dulu, tak perlu tergesa-gesa mencampuri urusan mereka. "Barulah jika pertengkaran itu sudah mengarah ke hal-hal yang membahayakan, orang tua harus segera menghentikannya," kata Tia. Misalnya, pertengkaran mengarah ke perkelahian atau bertengkar dengan kata-kata yang tak semestinya dilontarkan anak seusia itu. 
 Kala menengahi pun kita tak perlu buru-buru memberikan jalan keluar. Tanyai dulu keduanya, apa yang kalian ributkan? "Jadi orang tua masuk dan mereka diajak diskusi agar lebih tenang dan tak main mulut begitu saja." Setelah salah satu bercerita, tanyai lagi lainnya, apakah itu benar? "Dengan demikian mencegah mereka menjadi pengadu." Lantas, tanyai, apa yang bisa mereka lakukan untuk menyelesaikan konflik. Tentunya masing-masing akan mengemukakan argumennya. 
 Nah, saat itulah kita harus menunjukkan bagaimana bisa menyelesaikan konflik meski berbeda sudut pandang, "Kalau menurutmu, mungkin pendapatmu itu yang benar. Tapi coba kita lihat dari pendapat temanmu." Misalnya, mereka berebut main di ayunan taman yang menjadi milik umum. Jelaskan, "Barang ini memang milik orang banyak. Jadi, semua orang boleh memakainya, baik kamu maupun temanmu. Nah, karena semua orang boleh pakai, maka berarti ini bukan milikmu sendiri, kamu tak boleh pegang terus mainan ini. Temanmu pun harus mendapat giliran pakai, kan?" 
 Jadi, buat mereka berdialog sehingga masing-masing akan mengerti apa maunya orang lain. Kemudian, tanyai atau dorong mereka untuk mencapai kesepakatan bersama agar keduanya dapat memakai ayunan itu bersama. "Karena temanmu duluan yang memegang ayunan itu, bagaimana kalau 10 menit pertama temanmu yang naik duluan dan kamu yang mendorongnya. Setelah itu ganti kamu yang naik dan temanmu yang dorong, setuju?" 
 Bisa juga dengan membuat aturan bersama. Misalnya, "Lain kali gini, deh, siapa yang pegang ayunan duluan, ia yang berhak main duluan. Yang lain dilarang menyerobot." Kalau mereka tanya, kenapa? Terangkan, "Bagaimana perasaanmu jika kamu sedang asyik bermain terus ada orang yang merebut mainanmu, kamu juga tak suka, kan?" 

EMPATI DAN TOLERANSI
 Bila anak masih tak bisa mengontrol emosinya, bimbinglah ia untuk mengarahkan emosinya. Katakan, misalnya, "Bunda mengerti Kakak marah karena Tati terus memainkan ayunan itu tanpa memberimu kesempatan untuk memainkannya. Barangkali Tati memang sudah lama ingin bermain ayunan. Coba, deh, bayangin kalau Kakak sudah lama ingin main ayunan, tentunya Kakak enggak cukup puas kalau mainnya sebentar, kan?" "Jadi, anak senantiasa dilatih untuk menempatkan diri pada posisi orang lain dan berempati pada perasaan orang lain agar tak menjadi egois," tutur Tia. 
 Menurut Tia, tak sulit, kok, melatih rasa empati pada anak. Kala bonekanya jatuh, misalnya, mintalah ia untuk memeluknya, "Duh, kasihan, pasti sakit sekali kakinya. Coba dielus-elus." Begitu juga kala kucingnya mengeong, misalnya, kita bisa menunjukkan, "Mungkin si Pus lapar, ya, sehingga mengeong terus. Yuk, kita kasih makan." Dari sini, perlahan-lahan akan tumbuh rasa empatinya. "Ia terlatih untuk memahami kesulitan makhluk lain dan perasaan orang lain. Dengan empati yang berjalan baik, lambat laun kontrol dirinya juga jadi baik," terang Tia. 
 Ia pun akan makin mengerti, mengapa orang lain melakukan tindakan berbeda dengannya. Sehingga, betapapun juga ia tak setuju dengan tindakan orang lain, ia akan berusaha berpikir seperti cara orang tersebut berpikir. Dengan begitu, konflik yang keras dapat dihindari. 
 Tapi tentu kita juga perlu mengajarinya toleransi. Hal ini bisa dilakukan dengan cara mengajari anak untuk saling berbagi sejak dini sehingga sikap toleransi akan mendarah daging dalam perilakunya. "Mulailah dengan mengajari anak untuk membagi kue atau mainannya dengan adik atau teman-temannya." 
 Yang tak kalah penting ialah mengajarkan keluwesan dalam menghadapi persoalan. Misalnya, ia tak mau membereskan mainannya setelah selesai bermain, "jangan lantas memberinya ultimatum, tapi berilah alternatif waktu untuk memilih waktu yang tepat dalam membereskannya, 'Bagaimana kalau sehabis menonton film kartun kamu membereskannya?'" Jadi, ada fleksibelitas dalam menangani sesuatu. 
 Dengan selalu mengajarkan keluwesan atau fleksibelitas, anak tak akan mudah meledak marah kala temannya tak mentaati aturan main yang telah mereka buat. Bukankah ia sudah terbiasa dengan ajaran, selalu ada jalan keluar lain manakala ada kesepakatan yang meleset? 

BERSIKAP ADIL
 Tentu kita juga perlu bertindak tegas terhadap perbuatannya yang salah saat meluapkan amarahnya. Misalnya, ia suka memukul. Nah, jelaskan padanya bahwa ia mesti menghilangkan kebiasaan buruknya memukul teman atau adiknya. Jika masih terulang lagi, maka ada konsekuensinya. Misalnya, tak boleh menonton film kartun kegemarannya di TV, tak boleh makan es krim selama seminggu, dan sebagainya. 
 Tapi ingat, pesan Tia, kita harus adil dalam hal ini. "Jika yang bertengkar adalah kakak-adik, maka siapa pun yang jadi biang keroknya, ia tetap anak Anda. Jadi, tetaplah berdiri di tengah dan jangan berpihak." Kalaupun mereka harus dihukum, hukumlah dengan sama rata. "Jangan si kakak saja yang dihukum, lantas si adik tidak. Karena sikap ketakadilan akan sangat membekas di hati anak." Jadi, lebih baik berdiri di tengah dan lakukan negosiasi dengan mereka dalam mencari jalan keluar dari permasalahannya. 
 Jika tak bisa diatasi, kita bisa menyita benda yang dijadikan rebutan. Mungkin mulanya mereka akan tambah ribut dan memprotes tindakan ini, tapi kita tetap harus tegas. "Anak-anak perlu tahu, jika mereka terus ribut dan tak ada yang mau mengalah atau bergantian main, maka benda itu sama sekali tak boleh dimainkan." Lain halnya jika mereka dapat menegosiasikan cara bermainnya sehingga tak berebut atau bahkan malah hendak bermain bersama. 
 Cara lain, meminimalkan kemungkinan terjadinya keributan. Misalnya, bila anak memang tak suka meminjamkan mainan kesukaannya pada orang lain, ya, jangan keluarkan benda itu kala teman-temannya datang. Dengan demikian, konflik sama sekali tak muncul. 

SIKAP KRITIS PADA ANAK HARUS DIASAH

Jangan langsung "dibantai" kala si kecil bawel bertanya, karena bisa mematikan sikap kritisnya. Ia justru harus diberi banyak rangsangan. 
 Bila dibandingkan teman-teman sebayanya yang cenderung banyak tanya dan kritis, Boby kebalikannya. Kala bermain pun ia lebih banyak mengekor apa kata teman-temannya. Tentu saja hal ini membuat Ny. Hani cemas. Nah, bila si kecil Anda juga seperti Boby, berarti Anda harus introspeksi, apakah dulu Anda merangsang si kecil atau tidak? 
 Seperti dikatakan Hera L. Mikarsa, Ph.D., seringkali orang tua menganggap semuanya sudah oke apabila anaknya tak rewel, sehingga tak merasa perlu untuk memberi rangsangan sama sekali. Selain itu, yang kerap tak disadari orang tua ialah menganggap anaknya masih kecil dan merekalah yang paling tahu, sehingga mereka cenderung mengatur, menggurui, dan mengkritik. "Anak tak diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapat atau mendapat hak suara. Yang harus didengar dan dipatuhi hanyalah omongan ayah atau ibunya saja." 
 Kalau sudah begitu, akhirnya si anak tentu jadi sebal dan takut untuk bersikap kritis. Habis, setiap kali berpendapat selalu dipotong, "Anak kecil tahu apa? Sudah, diam saja, jangan turut campur!" Begitu, kan, yang sering terjadi? Orang tua "lupa", dengan bersikap demikian, anak akhirnya jadi cenderung diam dan mengekor apa pendapat orang lain demi agar ia aman. 
 Tapi coba kalau ia diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapat tanpa merasa takut akan "dibantai" oleh orang tuanya, maka ia akan menggali segala potensinya untuk berpikir. Makin hari ia pun akan makin terampil mengelola pikirannya. 

JAWABAN SINGKAT
 Pada anak normal, artinya tak terbelakang, terang Hera, pola penalarannya akan melalui tahapan-tahapan tertentu. Mula-mula ia akan bertanya tentang fakta-fakta, yaitu bertanya tentang "apa". Seiring dengan bertambahnya umur, ia makin memahami kenyataan yang ada di lingkungannya, sehingga ia pun mengembangkan rasa ingin tahunya dengan pertanyaan "mengapa". Nah, "mengapa" ini tentunya butuh penjelasan, butuh nalar. 
 "Biasanya orang tua langsung panik duluan ketika ditanya macam-macam oleh anak. Apalagi kalau pertanyaannya sulit," tutur psikolog dari Fakultas Psikologi UI ini. Yang terjadi kemudian, karena tak bisa menjawab, orang tua lantas memotong pertanyaan anaknya atau malah menjawab secara ngawur. "Mereka juga jadi tak suka kalau anaknya berbicara," lanjutnya. 
 Padahal, terang Hera, anak sebenarnya tak butuh jawaban yang panjang-panjang dari orang tua. "Yang diperlukan anak adalah jawaban simpel, sesuai dengan kemampuan berpikirnya." Tapi itulah, orang tua cenderung berpikir sebagai orang dewasa, tak masuk ke jalan pikiran anak. 
 Pernah, ungkap Hera, keponakannya saat melihat acara Dunia Dalam Berita di TVRI yang menayangkan tentang kelaparan di Ethiopia tiba-tiba berkata, "Tante, kok, Tuhan sekarang jahat, ya?" "Saya pun kaget mendengarnya," aku Hera. "Lantas saya tanya, 'Kenapa kamu bilang begitu? Dia jawab, 'Lo, itu, Tuhan membiarkan banyak orang mati dan kelaparan.' Nah, berarti nalarnya jalan, kan? Kalau Tuhan baik, kenapa banyak orang mati dan kelaparan?" 
 Jadi, tandas Hera, orang tua jangan hanya menangkap omongan anak, tapi juga mencari tahu penalarannya seperti apa. "Dari situ kita bisa masuk untuk mengarahkan jika ternyata penalarannya salah." Sayangnya, banyak orang tua yang tak punya waktu untuk bertanya dan langsung bilang, "Eh, kamu enggak boleh bilang begitu. Tuhan nggak boleh dibilang jahat. Dosa!" Akhirnya, anak pun diam. Ya, matilah daya kritisnya. Dia akan berpikir, "Nanti aku akan dimarahi Mama (Papa) kalau bilang Tuhan jahat." Padahal logika si anak sedang jalan. 
 Lagi pula, tambah Hera, dengan selalu menanyai anak tentang alasan ia berkomentar demikian, bukan hanya akan melatih kemampuan berbahasanya saat mengemukakan pendapatnya, tapi juga membuatnya merasa dihargai. 

LEWAT INTERAKSI DALAM KELUARGA
 Anak prasekolah, lanjut Hera, tengah berkembang pesat rasa ingin tahunya. "Ia akan banyak tanya, bahkan terkesan bawel. Saat itulah sebenarnya orang tua mengasah sikap kritisnya. Semakin dini anak diasah sikap kritisnya akan semakin baik. Pokoknya, sejak anak mengenal komunikasi sudah bisa diasah." 
 Adapun caranya, sama seperti pengembangan sikap yang lain, yaitu diasah lewat interaksi dalam keluarga. Pada waktu makan, misalnya, tumbuhkan diskusi antar keluarga. Kakak dan adik bercerita, sementara orang tua memberikan masukan dan menanggapi. 
 Bisa juga lewat buku cerita bergambar. "Dengan memperlihatkan buku bergambar atau cerita pada anak, maka anak akan banyak bertanya, entah tentang gambar atau cerita tersebut." Atau, lewat permainan seperti permainan balok. "Minta anak mengklasifikasikan ke bentuk yang sama, lalu tanyakan kenapa ia mengelompokkannya demikian. Dengan begitu, penalaran anak berjalan dan anak pun jadi kritis mengembangkan daya nalarnya." 
 Dalam kehidupan sehari-hari pun orang tua bisa mengasah daya nalar anak. Misalnya, saat ibu memakaikan diapers pada celana sang adik, ibu bisa bilang, "Adik harus pakai diapers supaya celananya tak basah." Dengan memberikan penjelasan dan pengetahuan, daya nalar anak pun berkembang. 
 Yang tak boleh dilupakan, terang Hera, rangsangan dari luar ikut menentukan kekritisan anak. "Itulah pentingnya kesadaran orang tua untuk selalu memberi pengetahuan sebanyak mungkin pada anak. Cobalah kalau hari libur, ajak anak berjalan-jalan ke kebun binatang, ke pantai atau ke tempat-tempat yang dapat menambah wawasan anak. Dengan pengetahuan yang banyak, maka akan mempertajam daya pikir anak." 
 Tentunya, rangsangan yang diberikan pada anak harus disesuaikan dengan kemampuannya. "Orang tua, kan, pasti tahu kemampuan anaknya sudah seberapa jauh. Dengan demikian ia tahu, anaknya bisa memahami pada tahap yang bagaimana. Kalau anaknya cuma baru bisa bicara sepatah dua patah kata, tentunya tak perlu menuntut anak menjelaskan secara panjang lebar. Yang singkat dan sederhana saja pun oke." 
 Selain itu, jangan lupa memberi kesempatan pada anak untuk bersosialisasi dengan teman sebayanya. "Dalam suasana yang egaliter dengan teman sebayanya, biasanya anak terasah sikap kritisnya. Coba saja dengarkan obrolan antar anak, bagaimana mereka saling mengunggulkan dan menyangkal pendapat teman-temannya." 

CONTOH DARI ORANG TUA
 Tapi jangan salah, lo, mengembangkan sikap kritis bukan berarti anak boleh seenaknya mengkritik orang lain. Misalnya, si kecil keceplosan, "Ih, Tante, kok, gendut sekali, sih!" Orang tua harus mengingatkan, "Kamu enggak boleh bilang begitu di depan orangnya." Bila ia bertanya, "Mengapa?", jawablah, "Karena omonganmu itu akan melukai hatinya. Kamu juga enggak suka, kan, kalau disakiti?" 
 Jadi, ada nalarnya, bahwa sesuatu itu tak boleh dilakukan karena ada nalarnya. Tentunya, anak juga harus diajarkan melihat hal-hal positif dari dirinya sendiri dan orang lain. "Ajarkan juga bahwa mengkritik orang boleh-boleh saja, tapi ada caranya. Ada yang dengan cara manis dan ada pula dengan cara agresif," tutur Hera. 
 Untuk anak kecil, contoh dari orang tua sangat diperlukan, bagaimana orang tua mempraktekkan sikap kritis dalam kehidupan sehari-hari. "Kritis tapi tetap ada rambu-rambunya, lo." Karena itu, Hera berpendapat, tak ada salahnya bila ayah dan ibu berdebat di depan anak, karena dapat memberi contoh secara langsung pada anak. "Tentunya pilih perdebatan yang layak untuk didengar anak. Kalau perdebatan itu tak baik didengar anak, ya, jangan lakukan di depan anak." 

MUDAH BERADAPTASI
 Nah, sudah paham, kan, Bu-Pak? Tapi tak perlu berkecil hati bila sang buah hati tak seperti teman-teman sebayanya yang kritis, karena tak selamanya ia akan demikian. "Bukankah anak selalu berubah? Perubahan ini bisa terjadi karena terbawa lingkungannya," tutur Hera. Misalnya, lingkungannya atau teman-temannya terdiri dari orang-orang yang kritis, banyak omong, banyak tanya, maka ia pun bisa jadi terbawa dan akhirnya ikut berpikir kritis pula. 
 Tapi jangan lupa, belum tentu anak akan mendapatkan lingkungan yang kritis. Itulah mengapa Hera menekankan, "alangkah baiknya jika sikap kritis diasah dari rumah." Apalagi, tambahnya, pengajaran di sekolah semakin tinggi, semakin menuntut pikiran yang kritis dari siswanya. 
 Memang, aku Hera, di SD hingga SMU banyak pelajaran yang tak mendukung anak berpikir kritis. "Anak diberi hapalan melulu. Namun di perguruan tinggi, anak dituntut untuk berpikir kristis." Nah, kalau ia tak diasah sejak kecil, bagaimana ia bisa berpikir analitik dan kritis? Iya, kan? 

Sabtu, 25 Oktober 2008

10 Ciri Orang Yang Berpikir Positif

Semua orang yang berusaha meningkatkan diri dan ilmu pengetahuannya pasti tahu bahwa hidup akan lebih mudah dijalani bila kita selalu berpikir positif. Tapi, bagaimana melatih diri supaya pikiran positiflah yang ‘beredar’ di kepala kita, tak banyak yang tahu. Oleh karena itu, sebaiknya kita kenali saja dulu ciri-ciri orang yang berpikir positif dan mulai mencoba meniru jalan pikirannya.

1. Melihat masalah sebagai tantangan. Bandingkan dengan orang yang melihat masalah sebagai cobaan hidup yang terlalu berat dan bikin hidupnya jadi paling sengsara sedunia.

2. Menikmati hidupnya. Pemikiran positif akan membuat seseorang menerima keadaannya dengan besar hati, meski tak berarti ia tak berusaha untuk mencapai hidup yang lebih baik.

3. Pikiran terbuka untuk menerima saran dan ide. Karena dengan begitu, boleh jadi ada hal-hal baru yang akan membuat segala sesuatu lebih baik.

4. Mengenyahkan pikiran negatif segera setelah pikiran itu terlintas di benak. ‘Memelihara’ pikiran negatif lama-lama bisa diibaratkan membangunkan singa tidur. Sebetulnya tidak apa-apa, ternyata malah bisa menimbulkan masalah.

5. Mensyukuri apa yang dimilikinya. Dan bukannya berkeluh-kesah tentang apa-apa yang tidak dipunyainya

6. Tidak mendengarkan gosip yang tak menentu. Sudah pasti, gosip berkawan baik dengan pikiran negatif. Karena itu, mendengarkan omongan yang tak ada juntrungnya adalah perilaku yang dijauhi si pemikir positif.

7. Tidak bikin alasan, tapi langsung bikin tindakan. Pernah dengar pelesetan NATO (No Action, Talk Only), kan? Nah, mereka ini jelas bukan penganutnya.

8. Menggunakan bahasa positif. Maksudnya, kalimat-kalimat yang bernadakan optimisme, seperti “Masalah itu pasti akan terselesaikan, ” dan “Dia memang berbakat.”

9. Menggunakan bahasa tubuh yang positif. Di antaranya adalah senyum, berjalan dengan langkah tegap, dan gerakan tangan yang ekspresif, atau anggukan. Mereka juga berbicara dengan intonasi yang bersahabat, antusias, dan ‘hidup’.

10. Peduli pada citra diri. Itu sebabnya, mereka berusaha tampil baik. Bukan hanya di luar, tapi juga di dalam.

Sumber: Internet